Jumat, 09 Mei 2008

Tentang Bill Gates Ke Indonesia

Kedatangan Bill Gates ke Indonesia dalam kaitan dengan Microsoft Government Leaders Forum Asia 2008 (GLF Asia 2008) di Jakarta dapat disimak dari berbagai perspektif, dan tentunya, dapat menghasilkan berbagai interpretasi. Posisi Bill Gates dalam konteks teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dapat dikatakan sebagai selebritis bintang-5. Predikat ini tidak dapat dilepaskan dari posisi Bill Gates sebagai “ayah kandung” Microsoft. Berbagai spekulasi pun kemudian muncul. Simak saja “harapan” dari sejumlah pejabat di negeri ini terhadap kedatangan Bill Gates. Menristek, misalnya, berharap Windows menjadi Open Source [?]

Tentang Citizen Service Platform
Kalau disimak dari misi Microsoft untuk 2008 ini, yang sudah menggelar GLF di Amerika maupun Eropa (Berlin 22-01-2008), tawaran yang akan dibawa Bill Gates ke Jakarta tentu tidaklah jauh berbeda, yakni Citizen Service Platform (CSP). Gagasan ini merupakan respon Microsoft dalam menyikapi percepatan pertumbuhan TIK, baik dari sisi piranti lunak, piranti keras, dan (sudah barang tentu) pengguna komputer online. Lebih spesifik lagi, respon Microsoft didasari oleh perkembangan teknologi Web 2.0 yang menempatkan interaktifitas pengguna internet sebagai kekuatannya.

Melalui CSP, Microsoft menggagas peluang mengoptimalkan interaktifitas TIK untuk meningkatkan efisiensi dan modernisasi pelayanan publik pada skala lokal ataupun regional. Di sini Microsoft menerjemahkan konsep e-government dengan membangun strategi untuk mendukung pemerintah (lokal dan regional) untuk pengembangan infrastruktur TIK yang berkelanjutan dan fleksibel. Implikasinya, aplikasi dari CSP adalah membangun interaksi antara “balai kota” dengan warganya. Dengan kata lain, CSP menempatkan TIK tak ubahnya ekstensi dari “balai kota” yang siap melayani warganya setiap detik tanpa henti.

Bagi tentangblog, gagasan tentang CSP menjadi menarik untuk disimak ketika pengembangan “sasaran tembak” diarahkan ke pemerintah (pemerintah daerah) dan birokrasi. Artinya, melalui CSP Microsoft mulai masuk ke pusat-pusat syaraf pengambilan kebijakan publik. Dalam konsep CSP, Microsoft tidak sekadar menjadi faktor pendukung pelayanan sebagai pondasi mesin pengolah kata dan data. CSP menjadikan Microsoft sebagai ujung tombak pelayanan publik itu sendiri. Adapun sektor pelayanan yang menjadi skala prioritas utama adalah pendidikan, kesehatan dan pertumbuhan ekonomi.

Satu hal lagi yang tidak dapat dikesampingkan (atau justru yang utama), pemerintah (daerah) atau birokrasi merupakan pangsa yang besar. Dalam konteks Indonesia, posisi Microsoft memang belum sepenuhnya aman ketika produk Microsoft masih berdampingan dengan Open Source. Sekalipun kebijakan IGOS (Indonesia Go Open Source) sepertinya tidak pernah beranjak, sebagai sebuah kebijakan masih tetap berlaku. Bayangkan saja seandainya seluruh instansi pemerintah di negeri ini (termasuk sekolah-sekolah) nantinya menggunakan sistem operasi Windows yang resmi. Potensi besar inilah yang menarik Microsoft untuk menggelar GLF Asia 2008 dan mendatangkan “suhunya” ke Jakarta.

Tentang Bill Gates dan UU ITE
Sisi lain yang menarik dari kedatangan Bill Gates ke Indonesia adalah posisi Indonesia merupakan salah satu “musuh” besar Microsoft, dan vendor perangkat lunak komputer yang lain. Kedatangan Bill Gates di Indonesia nampaknya sama kontroversinya dengan kedatangannya di China, yang juga tergolong “musuh” Microsoft. Satu hal yang mungkin menjadi titik penting dari kedatangan Bill Gates ke Indonesia adalah telah disahkannya UU ITE. Sisi positif dari aplikasi UU ITE adalah kepastian dan jaminan bagi keberlangsungan bisnis di bidang TIK. Dengan kata lain, kedatangan Bill Gates merupakan “hadiah” dan sekaligus endorsement untuk menarik investasi ke dalam negeri.

Sedangkan dari sisi persoalan domestik, kedatangan Bill Gates dapat dijadikan sebagai bagian dari tonggak Kebangkitan TIK di Indonesia sebagai wujud dari peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Adakah sebuah kebetulan kalau selepas Bill Gates akan datang pula selebritis TIK di bidang perangkat keras, yakni Craig R Barrett, Bos dari Intel Corporations yang dijadwalkan ke Jakarta pada 14-16 Mei 2008. Sinergitas kedatangan Bill Gates dan Craig R Barrett merupakan kunci jawaban atas tawaran Bill Gates yang akan memberikan piranti lunak gratis untuk siswa setingkat SMP dan SMU, bila pemerintah dapat menekan harga komputer berkisar $ 200. Artinya, kepergian Bill Gates menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah Indonesia untuk bernegosiasi dengan pihak Intel dalam menyediakan perangkat keras murah.

*************