
Tak terasa, sudah lebih dari 2 bulan ini blog agak terlupakan. Terlalu banyak peristiwa yang terjadi sehingga sulit memilih prioritas persoalan untuk diangkat dalam tulisan. Bayangin aja, dari puasa, lebaran dengan mudiknya hingga jatuhnya Lehman merupakan peristiwa-peristiwa yang layak posting. Sialnya lagi, pekerjaan ga’ bisa diajak kompromi. So, jadilah blog benar-benar terbengkalai.
Ketika bos di kantor memberi instruksi akan mengirim tentangblog ke Yogya, segera saja tentangblog kontak seorang teman yang tinggal di Yogya.
“Apa yang menarik di Yogya pada tanggal 18 Oktober?” Tanya tentangblog.
“Nonton jazz aja, kamu kan suka?”
“Emang, siapa aja yang main?”
“Udahlah, yang penting tunda kepulangan semalam, nanti aku cariin tiket”, katanya meyakinkan.
**********
Tentang UGM Mandiri Jazz 2008
Akhirnya sampai juga di Grha Sabha Pramana, auditorium milik universitas “ndeso” itu. Teman Yogya ternyata sudah mengantongi selembar undangan untuk 2 kursi acara musik berlabel “UGM Mandiri Jazz 2008”. Konon, event ini sudah terselenggara yang ke sepuluh kali. Artinya, sudah mulai menjadi tradisi. Sederet nama penting tertulis di publikasi yang terpampang di kawasan Bunderan Kampus UGM, ada Trisum (Tohpati & Dewa Budjana), Donny Suhendra, Idang Rasjidi & Friends, Glenn Fredly, Rio Febrian, dan Rieka Roeslan. Sedangkan untuk MC dipasang Dian Satrowardoyo dan Butet Kartaredjasa. Menunya seperti gado-gado.
Kata teman Yogya lagi, nama-nama di atas menjadi nilai jual yang tinggi bagi penggemar musik di kota Gudeg. Katanya, tiket sudah habis 10 hari sebelum acara. Padahal gedung berarsitektur Joglo tersebut mampu menampung 4000-an penonton.
“Kota ini haus hiburan, apalagi yang namanya jazz”, gumamnya ketika melihat begitu banyaknya penonton yang ngantri di depan pintu masuk utama. Ketika masuk ke dalam ruang pertunjukkan, lampu sudah padam. Di panggung terpampang 3 layar yang ditembak dengan LCD proyektor menayangkan profil Bank Mandiri, sepertinya penyandang sponsor utama acara malam itu. Di bagian tengah gedung, tempat kami duduk, terasa gerah. Penyejuk ruangan tidak mampu melawan akumulasi suhu tubuh manusia dalam jumlah banyak.
Acara diawali dengan tampilan video “credit title” musisi yang akan tampil di acara tersebut. Penonton sudah mulai “naik” ketika nama-nama musisi tampil di layar. Usai tampilan “credit title”, Butet dan Dian Sastro (yang muncul kemudian) membuka acara dengan bla-bla-bla khas Butet yang nyerempet sana sini. Hampir 20 menit mereka di panggung, dan nampaknya penonton tidak terlalu terganggu. “Pancingan” Dian Sastro dan celoteh Butet menjadi pertunjukkan tersendiri, bukan sekadar MC.
Tentang Trisum minus Balawan featuring Donny Suhendra dan Rio Febrian
Dari publikasi telah disebutkan Trisum (Tohpati & Dewa Budjana), artinya Trisum minus Balawan. Penonton sudah maklum kalau tidak akan menonton tapping gitar ala Balawan. Didukung Indro pada bas, Saat pada suling bambu, dan Yesaya "Echa" Sumantri pada drum, Trisum menggebrak dengan “Cublak-cublak Suweng”. Lagu tradisional Jawa ini menjadi terasa progresif dan dinamik dimainkan Trisum. Cengkok Jawa mendayu-dayu yang seringkali mewarnai lagu Jawa tidak terasakan lagi.
Untuk melengkapi konsep trio, Trisum menampilkan Donny Suhendra dari Krakatau. Sedangkan untuk “daya tarik” penonton muda usia, Trisum “harus” berkolaborasi dengan Rio Febrian. Konon, ini pertamakalinya bagi Trisum tampil dengan vokal. Tampil lebih dari 1 jam, Trisum memainkan sejumlah lagu, di antaranya Guitar Midnight, Traumatic, dan La Fiesta (nomor standar dari Chick Corea).
Penampilan Trisum featuring Donny Suhendra bisa dikatakan standar, tidak ada yang istimewa. Konsep trio yang dibangun dengan Donny Suhendra terasa kurang nge-blend. Apalagi kalau referensi yang digunakan adalah penampilan Trisum lengkap dengan Balawan. Hilangnya sound Balawan menjadikan Trisum tidak utuh. Dari sisi hiburan panggung, Trisum nampaknya masih harus membekali diri dengan showpersonship yang bagus. Interaktifitas dengan penonton nyaris tidak terbangun, baik secara verbal maupun musikal. Jadinya, penonton hanyalah disuguhi musik, yang improvisasinya lebih hidup dibandingkan dengan mendengarkan rekaman mereka yang beredar lewat CD dan kaset.
Kehadiran Rio Febrian yang menyanyikan 2 lagu, terasa sekali hanyalah sticker penghias untuk Trisum. Tentangblog berharap Rio tampil menyanyikan lagu jazz standar. Setidaknya, event ini dapat menjadi ajang bagi Rio unjuk kebolehan dalam olah vokal, keluar dari arus utamanya. Harapan pun sirna dan Rio hanyalah angin yang berembus sesaat, yang kemudian dilupakan.
Jam session antara Indro pada bas dengan Echa pada drum perlu mendapat catatan tersendiri. Diawali dengan solo bas Indro membawakan “Masa Kecilku”, yang biasa dimainkan oleh Ada Band bersama Gita Gutawa. Indro yang punya segudang pengalaman sebagai basis free lance, menampilkan variasi teknik yang beragam. Sebagai musisi yang tergolong muda, Echa mampu mengimbangi permainan seniornya. Bahkan ketika sessi solo, Echa mampu berinteraksi dengan penonton.
Tentang Idang Rasjidi and Friends featuring Rieka Roeslan dan Glenn Fredly
Idang Rasjidi muncul pada sessi kedua. Berbeda dengan sessi awal yang lebih kontemporer, pada sessi Idang atmosfir jazz menjadi lebih kental. Idang mampu menghadirkan jazz dalam berbagai style, dari jazz samba dan bossa hingga munculnya unsur-unsur etnik daerah di Indonesia. Di samping itu, Idang sangat berupaya untuk membangun interaksi dengan penonton. Upaya Idang nampaknya sejalan dengan Rieka, yang juga berhasil membangun interaksi dengan Idang dkk. dan penonton. 3 buah lagu (diantaranya Manusia dan Wanita) yang dibawakan Rieka digelar habis dengan memanfaatkan ruang untuk improvisasi, jammin’ dan sekaligus berkomunikasi dengan penonton. Rieka benar-benar menjadi mampu “menggerakkan” penonton Yogya yang kalem menjadi lebih dinamik.
Sekalipun tidak menyanyikan lagu-lagu jazz standar, dan Rieka memilih menyanyikan lagu karyanya sendiri, kehadiran Rieka menjadi penting dan memberikan nilai plus pada pergelaran ini. Kebebasan yang dijanjikan jazz dimanfaatkan semaksimal mungkin dan benar-benar dinikmati oleh Rieka. Malam itu, Rieka menjadi primadonna, dan bukan karena satu-satunya musisi perempuan dalam pergelaran tersebut.
Sebagai penutup, Glenn tampil dengan kekuatan vokal yang tidak perlu disangsikan lagi. Untuk penampilannya, Glenn mengusung Niki Manuputty pada saksofon. Niki menjadi penting di sini mengingat posisinya yang tidak tercatat dalam publikasi justru mampu “mencuri” celah-celah sempit ruang musik Idang yang sangat padat. Pada “Come Together” dari The Beatles, jam antara Glenn, Idang dan Niki menjadi sangat intensif. Untuk penampilan di Yogya kali ini, Glenn menyanyikan “lagu wajib orang Yogya” Yogyakarta dari KLA Project dengan sentuhan funk yang lembut. Glenn menutup pagelaran dengan “Just the two of us” dari Grover Washington Jr. Di sini lagi-lagi Niki mencuri perhatian dengan saksofonnya.
Keluar dari Graha Sabha, jam sudah menunjuk 11.40. Selamat Malam Yogya.
****************************


0 komentar:
Poskan Komentar