Minggu, 06 Juli 2008

Tentang Indonesian Idol [4 Juli 2008]

Pentas 5 besar Indonesian Idol digelar semalam dengan tema “request”. Masing-masing kontestan membawakan lagu pilihan pemirsa, yang disajikan dalam situs Indonesian Idol sejak dua minggu lalu. Secara umum, masing-masing kontestan sepertinya mulai menunjukan adanya peningkatan dalam teknik menyanyi, namun untuk maju ke babak World Idol, nampak masih ada kekurangan yang relatif jauh. Apalagi kalau ukuran yang digunakan adalah David “Bartender” Cook, pilihan masyarakat Amerika.

Persoalan mendasar yang nampak dari pemunculan kontestan 5 besar adalah ciri khas karakter yang ingin dikembangkan. Bagi tentangblog, hanya Aji dan Aris yang paling siap untuk persoalan karakter dasar ini. Kekuatan di sisi inilah yang menjadikan keduanya masih dapat bertahan di orbitnya. Sementara untuk Dyna, Gisel dan Patudu, nampaknya masih harus mencari-cari. Belum kuatnya karakter dasar inilah yang dapat menjadi batu sandungan ketika ingin melepaskan diri dari bayang-bayang penyanyi yang lagunya mereka nyanyikan.

Aji tampil sebagai pembuka membawakan lagu “Cintaku” yang biasa dinyanyikan Chrisye. Dalam balutan swing, lagu tersebut menjadi milik Aji banget, dan dapat mencabut lagu tersebut dari Chrisye. Untuk penampilan ini, Aji juga tidak terlalu disibukkan persoalan stage-act yang rumit. Nampaknya Aji benar-benar ingin menunjukkan kepiawaiannya dalam bernyanyi. Sebagai pembuka sesi kontes, Aji berhasil dengan baik.

Dyna tampil pada urutan berikutnya nyaris tidak memberikan perlawanan yang cukup signifikan untuk menghapus memori penonton pada Aris. Bagi tentangblog, Dyna termasuk yang belum menemukan karakter khas dalam bernyanyi. Pada penampilan kali ini, Dyna muncul dari deretan penonton berjalan menuju ke panggung. Di sini Dyna sepertinya ingin membangun interaksi dengan penonton secara fisik. Namun, satu hal yang mungkin tidak dipertimbangkan oleh Dyna bahwa persoalan speaker monitor terkadang tidak dapat diajak kompromi. Pada penampilan model seperti ini, penyanyi dituntut memiliki kepekaan yang lebih untuk menangkap musik pengiring. Sementara kalau mengacu pada penampilan sebelumnya [27 Juni 2008], kelemahan mendasar dari Dyna adalah konsentrasi dalam bernyanyi.

Membawakan “Kesepian” dari Dygta, Patudu tampil sebagai kontestan ketiga. Dari sisi pemaknaan dan penjiwaan terhadap lagu, Patudu menunjukkan kemajuan. Dalam penampilan kali ini, Patudu tampil tidak tegang dan enak didengar. Namun dari sisi identitas, Patudu masih belum berhasil menjadikan “Kesepian” tersebut menjadi miliknya.

Aris muncul pada sesi keempat menyanyikan “Seperti Bintang” dari Yovie & The Nuno. Sebagai vokalis yang memiliki kekuatan dalam membawakan style rock, Aris seharusnya nyaris tidak menemukan persoalan untuk memosisikan dirinya dalam lagu tersebut. Pada penampilan kali ini, Aris membuat kejutan dalam stage-act-nya dengan memberikan setangkai mawar merah pada Titi DJ. Bagi tentangblog ini menjadi penting, karena pada penampilan sebelumnya, Aris sepertinya lebih sibuk dengan dirinya sendiri.

Gisel muncul sebagai penutup sessi kontes membawakan “Arti Hadirmu” dari Adam Sheila on Seven. Walaupun masih diatas kualitas Dyna, bagi tentangblog Gisel belum memiliki karakter yang kuat dalam menyanyi. Pekerjaan rumah Gisel untuk menemukan karakter yang menjadi identitasnya menjadi cukup berat ketika gaya “imut” dan “sweety” yang muncul di awal workshop hingga spektakuler banyak dikritik juri.

Tentang Dyna yang Pede dan Aris yang nge-per
Sesi Result dibuka dengan penilaian masing-masing kontestan terhadap kontestan lainnya. Dua hal yang harus diungkap, kontestan terlemah dan kontestan untuk Grand Final. Dari 5 kontestan, Aris menempatkan dirinya sebagai kontestan yang paling lemah. Nampaknya, 2 kali berada pada posisi 3 bawah cukup mempengaruhi penilaian Aris pada dirinya sendiri. Di sini Aris menunjukkan sisi lemah dibalik kerasnya style rock yang menjadi karakter khasnya di panggung. Pada penilaian yang paling lemah, Dyna paling sering disebut. Penilaian ini tidak jauh berbeda dengan prediksi juri, yang ketiganya menyebut Dyna sebagai terlemah.

Sedangkan untuk kontestan Grand Final, hanya Dyna yang berani menempatkan dirinya sebagai salah satu kontestan puncak acara Indonesian Idol. Dyna meramalkan akan tampil bersama Gisel di Grand Final. Sementara 4 kontestan lainnya sepertinya tidak berani menyatakan diri sebagai kontestan Grand Final, dan menyebut dua nama lain. Terlepas dari realitas obyektif yang menempatkan Dyna pada posisi terlemah, namun sikap percaya diri yang dimiliki Dyna harus mendapat acungan jempol. Nampaknya, kontes Idol belum sepenuhnya berhasil dalam membangun kepribadian Idol yang tangguh. Atawa… ini sebenarnya bentuk “rendah hati” yang senantiasa ditanamkan sebagai sikap positif dalam tatanan nilai masyarakat di negeri tercinta ini.

Pede-nya Dyna tidak cukup untuk mengatrol posisi dalam kontes Idol. Voters nampaknya tidak menginginkan lagi Dyna tampil di panggung yang megah tersebut. Setelah berada di kontestan 2 bawah bersama Patudu, Dyna harus menerima kenyataan untuk menghentikan langkahnya menapaki orbit Indonesian Idol. Prediksi juri dan kontestan terhadap kontestan terlemah nampaknya sejalan dengan aspirasi voters, dan Dyna harus menutup acara dengan melantunkan lagi "Semenjak ada Dirimu" sebagai salam perpisahan.

***********************

0 komentar: